Sejarah jakarta
Hari Ulang Tahun (HUT) DKI
Jakarta diperingati setiap 22 Juni. Tepat hari ini, 22 Juni 2019, Kota Jakarta
merayakan HUT ke- 492.
Sebagai kota metropolitan,
Jakarta menyimpan segudang cerita pengalaman hidup masyarakat. Berbagai
permasalahan seperti kemacetan, banjir, dan kriminalitas sering diidentikkan
dengan ibukota negara ini.
Pada masa kolonial, Belanda
memperingati hari jadi Kota Batavia tiap akhir Mei dengan dasar bahwa pada
akhir Mei 1619, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta,
seperti dilansir dari Sukita.
Lalu, bagaimana sejarah HUT
Kota Jakarta jatuh pada 22 Juni?
Hari jadi Kota Jakarta pada
22 Juni ditetapkan pada masa pemerintahan Walikota Sudiro yang menjabat periode
1953 – 1958. Penetapan berdirinya Kota Jakarta merujuk pada sejarah perebutan
pelabuhan Sunda Kelapa oleh tokoh Kerajaan Demak bernama Fatahillah tahun
1527.
Dalam Prasasti Buku
Tulis di Bogor, tertera telah berdiri Kerajaan Padjajaran pada 1133 dengan
wilayah kekuasaan meliputi Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Saat itu,
Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara menjadi pusat transportasi air yang
dikuasai Kerajaan Padjajaran.
Ketika Portugis tiba tahun
1522, telah terjadi perjanjian dagang dan pertahanan antara Raja Padjajaran
dengan Portugis. Inti perjanjian yang berlangsung pada 21 Agustus 1522 itu,
memberikan kebebasan kepada Portugis untuk berdagang melalui Pelabuhan Sunda
Kelapa dan memberikan izin mendirikan benteng pertahanan.
Tahun 1527, Portugis kembali
datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk menindaklanjuti perjanjian pada 1522.
Akan tetapi, waktu itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai tentara Kerajaan
Demak di bawah pimpinan Fatahilah.
Kemudian 22 Juni 1527,
Fatahillah dapat mengalahkan dan mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Kemudian
mengganti nama pelabuhan tersebut menjadi Jayakarta.
Berjalannya waktu, Belanda
menduduki Jayakarta dan berganti nama menjadi Sta Batavia. Kemudian berubah
lagi menjadi Gemeente Batavia pada 1905. Tahun 1942, setelah Jepang menduduki
Batavia diubah menjadi Toko Betsu Shi. Lalu setelah Jepang menyerah kepada
sekutu, namanya menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
Tidak berapa lama setelah
itu, keseluruhan kota diduduki oleh pemerintahan NICA, namanya pun kembali
seperti dulu, Stad Gemeente Batavia. Pada 24 Maret 1950, diubah kembali menjadi
Kota Praja Jakarta.
Selepas masa penjajahan, Wali
Kota Sudiro menyadari Jakarta harus memiliki hari jadi. Dia kemudian
mengumpulkan sejumlah tokoh, seperti Mohamad Yamin dan Sukanto, serta wartawan
senior Sudarjo Tjokrosiswoyo untuk meneliti kapan Jakarta didirikan oleh
Fatahillah. Sukanto menyerahkan naskah berjudul “Dari Jayakarta ke Jakarta”.
Naskah itu kemudian diserahkannya ke Dewan Perwakilan Kota Sementara untuk
dibahas. Digelarlah sidang dan menetapkan 22 Juni 1527 sebagai berdirinya Kota
Jakarta.
Pada 22 Juni 1956, Sudiro
mengajukan dengan resmi dan usulannya diterima dengan suara bulat. Sejak saat
itu, setiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD Kota Jakarta. Sebagai tradisi
memperingati berdirinya Kota Jakarta.
KULINER JAKARTA
1. Kuliner Ragusa Es Italia
2. Kuliner Sate Tulang Eldoraro
3. Kuliner Tahu Pong Semarang dan sekarang lagi ngehits di jakarta yaiitu sate buntel dari aqiqah nurul hayat aqiqah jakarta timur

Komentar
Posting Komentar